Kamis, 29 Januari 2015

Masalah Kependudukan dalam Hubungannya dengan Perkembangan Masyarakat dan Kebudayaan


Sesuai dengan judul diatas , saat ini banyak sekali muncul masalah-masalah kependudukan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan kebudayaannya. Masalah-masalah tersebut muncul karena berbagai faktor. Dimana faktor tersebut bisa berasal dari Luar (Eksternal) atau dari dalam (Internal) negeri. Perubahan tersebut bisa menyebabkan dampak Positif dan Negatif.

Masalah individu, keluarga dan masyarakat

Kaitan antara individu, keluarga dan masyarakat adalah bahwa individu merupakan bagian terkecil dari sebuah masyarakat dan keluarga merupakan lembaga sosial yang paling sederhana dalam sebuah masyarakat. Meskipun demikian, individu dan keluaraga memegang peran penting dalam proses perkembangan masyarakat dan kebudayaan. Masalah-masalah yang muncul di dalam masyarakat tentunya berawal dari individu, bahkan keluarga memiliki andil, karena biasanya individu yang berperilaku menyimpang berasal dari keluarga yang sosialisasinya tidak sempurna atau ada fungsi dari keluarga yang tidak berjalan dengan baik. Pewarisan budaya juga tentu yang paling awal adalah melalui keluarga (keturunan). Dari pemaparan diatas saya mengambil contoh misalkan program jam belajar pukul  18.00 sampai 21.00 yang disosialisasikan oleh pemerintah kota Depok agar anak-anak terhindar dari tayangan televisi yang tidak bermutu dan merusak seperti sinetron dan sejenisnya. Pemerintah hendak membudayakan untuk tidak menyalakan tv di jam-jam tersebut agar anak-anak bisa focus belajar. Disinilah dapat dilihat bahwa keluarga memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan masyarakat dan kebudayaan. Terbukti dengan pemerintah yang langsung membidik keluarga sebagai partner untuk menyukseskan program tersebut, bukan dari sekolah maupun pihak lainnya.

Masalah pemuda dan sosialisasi

Tantangan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia pada saat ini adalah lunturnya rasa nasionalisme dan kecintaan terhadap budaya oleh generasi mudanya. Derasnya arus globalisasi menggerus kecintaan mereka terhadap Indonesia. Budaya hedonisme dan konsumerisme seolah tidak bisa terlakkan. Kurangnya sosialisasi terhadap pentingnya rasa nasionalisme, cinta tanah air dan kebudayaan pun memiliki andil dalam fenomena generasi muda yang hedonis pada saat ini. Pada faktanya, tidak hanya generasi muda yang tergerus rasa nasionalismenya oleh arus globalisasi, tapi juga orang-orang dewasanya. Ini yang membuat mereka lupa atau bahkan enggan untuk menanamkan kepada generasi selanjutnya untuk tetap menjaga budaya Indonesia yang kita punya. Dari pemaparan diatas saya mengambil contoh keberadaan organisasi IYC (Indonesian youth conference) dan ISU (Indonesia student united) yang mana mereka konsen terhadap pelestarian budaya dan rasa nasionalisme, dan sasaran organisasi tersebut adalah generasi muda agar rasa cinta tanah air dan budaya Indonesianya tetap terjaga

  
Masalah hubungan antara warga dan negara

Warga Negara adalah rakyat yang menetap di suatu wilayah tertentu dalam hubungannya dengan negara.  Sedangkan “Negara” berasal dari bahasa asing Staat (Belanda, Jerman), atau State (Inggris). Kata Staat atau State pun berasal dari bahasa Latin, yaitu status atau statum yang berarti “menempatkan dalam keadaan berdiri, membuat berdiri, dan menempatkan”. Hal yang paling sering terjadi antara warga dan negara adalah kurangnya kepastian hukum yang berlaku, kurangnya perlindungan dari negara kepada rakyat/warganya, dan kurangnya toleransi. Sehingga memunculkan banyaknya konflik dan perpecahan antar warga negara itu sendiri.

Masalah pelapisan sosial dan kesamaan derajat

Masalah ini biasanya disebabkan oleh tingkat pendidikan atau penghasilan. Yang dimana terjadi perbedaan derajat antara “Si Kaya” dan “Si Miskin”. Jaman sekarang untuk melamar pekerjaan hal yang paling utama ditanya adalah “pendidikan terakhir anda apa?”, yang menyebabkan kedepannya menyulitkan orang tersebut susah untuk mendapatkan pekerjaan, akan tetapi untuk terus melanjutkan pendidikan hingga tinggi dibutuhkan uang yang lumayan banyak. Dan terkadang banyak orang kaya yang meremehkan rakyat kecil..


Masalah masyarakat perkotaan dan pedesaan

Perkembangan masyarakat perkotaan itu sebenernya lebih dinamis dari pada masyarakat desa, terutama yang ada di kota-kota besar. Karena mereka biasanya bersentuhan langsung dan berada dekat dengan hubungan internasional yang identik dengan globalisasi. Soal gadget, fashion, dan sebagainya, tentu masyarakat perkotaan duluan yang mencicipinya daripada masyarakat desa, dan persoalan kebudayaan disini adalah budaya hidup yang hedonis dan konsumtif telah dianut oleh sebagian besar masyarakat perkotaan. Sementara masyarakat pedesaan, perkembangannya cenderung lambat, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, namun masyarakat desa juga cenderung bersikap seperti “craving for modernism” sehingga menjadikan masyarakat perkotaan sebagai kiblat dan panutan mereka. Segala sesuatu yang disebut modern akan menarik perhatian mereka. Bahkan, sampai muncul budaya “ke Jakarta setelah lebaran” atau disebut urbanisasi karena Jakarta dilihat sebagain poros modernisasi Indonesia dan ada stigma bahwa jika pindah ke Jakarta maka itu keren. Hal itulah yang menyebabkan penduduk di Jakarta membludak dan membuat pemerintah kewalahan soal kemiskinan dan lapangan pekerjaan bagi mereka kaum urban. Permasalahan budaya masyarakat pedesaan adalah tergerusnya ketradisionalan dan budaya mereka akibat ikut-ikutan masyarakat kota agar dibilang modern dan keren. Padahal tidak selalu yang modern itu keren.


Masalah pertentangan sosial


Perkembangan masyarakat dan budaya itu kaitannya dengan konflik adalah masyarakat itu gak bakalan statis, pasti dinamis dan terus berubah-ubah. Komposisinya semakin heterogen. Karena heterogenitas itulah bisa jadi penyebab munculnya pertentangan sosial bahkan sampai konflik. Itu kalo masyarakat gak bisa menerima perkembangan masyarakat yang semakin heterogen. Contohnya dulu itu kan LGBT gak keekspos. Tapi sekarang mereka mulai naik ke permukaan, unjuk gigi bahkan memperjuangkan hak untuk kaum mereka. ini bukti bahwa masyarakat dinamis dan semakin heterogen. Tapi keberadaan mereka kaum LGBT itu memicu pertentangan bahkan konflik karena tentunya ada yang pro dan kontra terhadap keberadaan mereka yang hendak menuntut kesetaraan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar