ISD dan IBD
Jumat, 15 Mei 2015
Pengaruh WaliSongo Dalam Budaya Nusantara
A. Sejarah Masuknya Islam di Nusantara
Perkembangan agama Islam di Indonesia berlangsung sangat cepat. Hal ini tidak terlepas dari peranan para saudagar muslim, ulama, dan mubalig. Dengan penuh semangat mereka menyebarkan nilai-nilai Islam kepada masyarakat setempat. Nilai-nilai ajaran Islam tersebut disampaikan melalui perdagangan, sosial, dan pendidikan. Demikian halnya dengan peran para ulama di Jawa yang disebut dengan wali Songo.
1. Peranan Saudagar Muslim dalam Penyebaran Agama Islam
Menurut sejarahnya, proses masuknya agama Islam ke Indonesia belum dapat dipastikan waktunya. Beberapa sejarahwan menyebutkan abad ke-7 sebagai awal masuknya Islam. Akan tetapi, pendapat lain mengatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13. Berdasarkan penelitian para ahli, agama Islam dibawa dan dikembangkan oleh para saudagar muslim dari Gujarat, Arab, dan Persia. Ajaran Islam ini diterima oleh masyarakat yang tinggal di sekitar pesisir pantai utara. Dengan demikian, melalui para saudagar inilah agama Islam mulai berkembang pesat yang ditandai adanya kerajaan-kerajaan Islam di pesisir pantai.
Dengan berbagai upaya dan perjuangan yang dilakukan oleh para saudagar muslim tersebut, kehadiran Islam di Nusantara bukan hanya berkenan di kalangan masyarakat bawah, melainkan juga menyentuh masyarakat kelas atas, seperti kaum bangsawan, tokoh masyarakat, kepala suku, dan para uleebalang (ketua adat).
Perjuangan para saudagar muslim tidak berhenti sampai di situ. Mereka terus berjuang dan tak kenal lelah menyebarkan nilai-nilai ajaran Islam pada masyarakat hingga berhasil. Kesuksesan mereka dalam menyiarkan dan mengembangkan agama Islam dapat terlihat dengan munculnya bandar-bandar perdagangan yang besar dan sangat ramai dikunjungi oleh para pedangang dari dalam dan luar negeri.
Penyebaran Islam dimulai dari pesisir kemudian tersebar ke daerah yang terletak di pedalaman. Masyarakat di pedalaman terkenal teguh pada kepercayaan dan tradisi nenek moyangnya, tetapi karena kesabaran dan kebijaksanaan mereka mampu menarik masyarakat pedalaman untuk memeluk agama Islam.
2. Peranan Wali Songo dan Ulama dalam Penyebaran Agama Islam
Selain para pedangang, faktor lain yang memiliki jasa besar dalam penyebaran agama Islam di Indonesia adalah ulama dan mubalig. Penyebaran agama Islam khususnya di Jawa dikembangkan oleh sejumlah wali. Untuk mengoordinasikan kegiatan dakwah yang dilakukan oleh para wali tersebut, dibentuklah sebuah organisasi atau dewan dakwah yang disebut Wali Songo (ulama sembilan) yang beranggotakan sembilan orang wali.
Wali adalah seseorang yang mempunyai kepribadian baik dan dianggap dekat dengan Allah swt, serta mempunyai kemampuan atau kekuatan yang tidak dimiliki oleh manusia biasa. Pendapat lain mengatakan bahwa seorang wali adalah orang yang selalu dijaga oleh Allah swt, dan senantiasa berbakti kepada-Nya.
Wali songo mengembangkan agama Islam antara abad ke-14 sampai abad ke-16 M. Dalam buku Babad Tanah Jawi dikatakan bahwa dalam berdakwah para wali ini dianggap sebagai sekelompok mubalig untuk daerah penyiaran tertentu. Selain dikenal sebagai ulama, mereka juga berpengaruh besar dalam pemerintahan. Oleh karena itu, mereka diberi gelar sunan atau susuhunan (junjungan).
Berikut ini Wali Songo yang berperan menyebarkan agama Islam :
a. Sunan Gresik (Sunan Malik Ibrahim)
Maulana Malik Ibrahim (Maulana Magribi), berasal dari wilayah Magribi (Afrika Utara) ia lebihdikenal dengan nama Sunan Gresik karena selama ± 20 tahun ia berhasil mencetak kader dakwah di Gresik. Ia berdakwah secara intensif dan bijaksana. Meskipun bukan orang Jawa tapi ia mampu mengatasi keadaan masyarakat setempat dan menerapkan metode dakwah yang menarik. Diantara upayanya yaitu menghilangkan kasta dalam masyarakat.
b. Sunan Ampel (Maulana Rahmatullah)
Sunan Ampel memulai dakwahya dari pesantren yang didirikan di Ampel Denta (dekat Surabaya). Sunan Ampel dikenal sebagai wali yang tidak setuju adat istiadat seperti mengadakan sesaji atau selamatan oleh rakyat Jawa waktu itu. Namun para wali berpendapat bahwa hal itu tidak dapat dihilangkan dengan segera, melainkan dengan cara memasukkan nilai-nilai Islami di dalamnya. Sunan Ampel sebagai penerus cita-cita Sunan Gresik.
c. Sunan Bonang (Maulana Makhduhm Ibrahim)
Sunan Bonang termasuk wali yang menyebarkan agama Islam dengan cara menyesuaikan kebudayaan Jawa, seperti wayang dan gamelan. Untuk itu ia menciptakan gending-gending yang memiliki nilai-nilai keislaman. Setiap bait lagu diselingi dengan ucapan denagn dua kalimat syahadat sehinggan musik gamelan yang mengiringinya dikenal dengan saketan.
d. Sunan Drajat (Maulana Syaifuddin)
Sunan Drajat dikenal sebagai wali yang berjiwa sosial tinggi. Perhatiannya yang demikian besar terhadap masalah sosial sangat tepat karena ia hidup pada saat kerajaan Majapajit runtuh dan rakyat mengalami krisis yaang memprihatinkan. Selain itu, dalam berdakwah ia juga menggunakan media kesenian. Pungkur adalah salah satu ciptaanya.
e. Sunan Giri (Maulana Ainul Yaqin)
Sunan Giri atau Raden Paku merupakan seorang wali yang menyebarkan agama Islam dengan meitikberatkan bidang pendidikan. Ia pernah belajar di Pesantren Ampel Denta dan juga sebagai pendiri Pesantren Giri , beliau merupakan tokoh pemersatu Indonesia di bidang pendidikan agama Islam.
f. Sunan Kalijaga (Maulana Muhammad Syahid)
Sunan Kalijaga merupakan seorang budayawan dan seniman. Karena wawasannya yang luas dan pemikirannya yang tajam, ia tidak hanya disukai oleh rakyat tetapai juga para cendikiawan dan penguasa. Sunan kalijaga berdakwah dengan berkelana. Sarana dakwahnya berupa wayang kulit. Alur cerita dan tokoh wayang memuat nilai-nilai Islam. Dandanggula adalah lagu yang diciptakannya.
g. Sunan Muria (Maulana Umar Said)
Sunan Muria dikenal pendiam, tetapi sangat tajam fatwanya., ia juga dikenal sebagai guru tasawuf. Dalam menyebarkan agama Islam,ia lebih memfokuskan di daerah pedesaan karena ia sendiri tinggal di pedesaan, ia juga menyukai seni. Dua lagu bernuansa Islam, yakni Sinom dan Kinanti. Tembang sinom umumnya melukiskan suasana ramah tamah dan nasihat. Tembang Kinanti bernada gembira digunakan untuk menyampaikan ajaran agama, nasihat, dan falsafat hidup.
h. Sunan Kudus (Maulana Ja’far Shadiq)
Ia mendapat gelar Al ‘ilmi (orang berilmu luas) karena memiliki berbagai ilmu agama, seperti fikih, ilmu tauhid. Karena keahliannya itu ia mendapat kepercayaan dari Kesultanan Demak untuk mengendalikan pemerintahan dan hakim tinggi di wilayah itu. Untuk melancarkan penyebaran Islam,ia membangun masjid di Kudus yang disebut Menara Kudus karena di smapingnya ada menara tempat bedug masjid.
i. Sunan Gunung Jati (Maulana Syarif Hidayatullah)
Ia adalah seorang yang sangat berperan dalam penyebaran agama Islam di Cirebon. Ia merupakan cucu Raja Pajajaran yang lahir di Mekah. Setelah dewasa, ia memilih berdakwaah di Jawa dan menggantikan kedudukan pamannya dan berhasi; menjadikan Cirebon sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa Barat.
3. Faktor – faktor Penyebaran dan Pengembangan Agama Islam.
Faktor – faktor yang memengaruhi penyebaran dan pengembangan agama islam adalah sebagai berikut:
a. Perdagangan
Para pedagang yang berasal dari berbagai negeri membentuk komunitas yang disebut dengan perkampungan Pakayon, yaitu kampung yang khusus untuk para pedagang muslim. Disinilah mereka melakukan perdagangan sambil berdakwah.
b. Sosial dan Kemasyarakatan
Salah satu faktor proses penyebaran islam adalah dari segi sosial kemasyarakatan dalam bentuk perkawinan.
c. Pengajaran
Penyebaran agama islam mengalami kemajuan antara lain melalu jalur pendidikan dan pengajaran, seperti sebutan pesantren di Jawa, Surau di Minangkabau, dan Pondok di Semenanjung Malaka.
Selain dari Wali Songo tersebut masih ada para wali lainnya yang tidak kalah pentingnya dalam penyiaran dan perkembangan agama islam di Pulau Jawa, di antaranya Syekh Siti Jenar atau Syekh Lemah Abang dari Demak, Sunan Tembayat di Bayat Klaten, Sunan Geseng di Tirta-Magelang, Syekh Maulana Ishak, Sunan Ngudung, Syekh Syubakir, dan Syekh Qurrotul Ain.
Adapun para wali yang berjasa dalam mengambangkan agama islam di wilayah luar Jawa adalah sebagai berikut.
1. Syekh Samsuddin, telah berhasil menyiarkan dan mengembangkan agama islam di daerah Kalimantan Barat.
2. Datuk Ribandang, telah menyiarkan dan mengembangkan agama islam di daerah Sulawesi.
3. Sunan Giri, telah menyiarkan dan mengembangkan agama islam ke daerah Nusa Tenggara, Banjarmasin, Ternate, dan Maluku, dan daerah-daerah lainnya di samping Pulau Jawa sendiri sebagai pusat kegiatannya.
4. Syekh Burhanudin, telah berjasa dalam menyiarkan agama islam di Ulakan minagkabau.
B. Kerajaan – Kerajaan Islam di Indonesia
1. Kerajaan islam di Jawa
Beberapa kerajaan islam di Jawa yang memengaruhi penyebaran dan perkembangan agama Islam adalah sebagai berikut.
a) Kerajaan Islam Demak (1500-1518 M)
Raden Fatah atau Pangeran Jimbun adalah perintis kerajaan islam di Jawa sekaligus sebagai pendiri Kerajaan Demak. Ia memerintah pada tahun 1500-1518 M. Pada mulanya Demak adalah pusat pengajaran agama yang dilakukan oleh Raden Fatah. Ia mulai membuka pesantren pada tahun 1475 M atas perintah Sunan Ampel.
Sebelum Raden Fatah mendirikan Kerajaan Islam Demak, ayahnya yang bernama Prabu Kertabumi Brawijaya V menjadi raja di Majapahit pada tahun 1468-1478 M. kemudian pada tahun 1479 Majapahit diserang oleh Prabu Giridra Wardana dari Kediri. Ia berhasil merebut Majapahit dan akhirnya menjadi raja dengan gelar Brawijaya VI tahun 1478-1498 M. pada tahun 1498 Brawijaya ditaklukan oleh Prabu Udara yang bergelar tahun 1498–1517 M. pada tahun 1517 M, Demak berhasil mengalahkan Majapahit pada waktu pemerintahan Brawijaya VII.
Pada tahun 1517 Demak menyerang Majapahit dan berhasil mengalahkan Prabu Udara (Brawijaya VII). Dengan demikian, berakhirlah riwayat Kerajaan Majapahit diganti dengan berdirinya Kerajaan Islam Demak.
Raden Fatah mempunyai gelar Sultah Al-Fatah Alamsyah Akbar. Baru satu tahun Raden Fatah resmi menjadi raja Demak ia meninggal dunia pada tahun 1518 M. Ia meninggalkan Masjid Agung Demak yang pembuatannya dibantu oleh para Wali Songo. Sepeninggal Raden Fatah digantikan oleh Adipati Unus (1518-1521 M). Adipati Unus terkenal dengan Pangeran Sebrang Lor.
Setelah menjadi raja, ia terkenal dengan sebutan Sultan Demak II. Ia hanya berkuasa selama 3 tahun. Selama itu ia banyak melakukan peperangan karena banyak pemberontakan. Ia wafat pada 1521 M dan dimakamkan di Demak bersebelahan dengan makam Raden Fatah.
Setelah Pangeran Sebrang Lor meninggal dunia, ia digantikan oleh saudaranya yaitu Sultan Trenggono (1521-1546). Pada masa itu, datang seorang mubalig dari Samudra Pasai bernama Fatahilah atau Fadilah Khan.
Fatahilah diangkat menjadi guru agama di lingkungan istana, penasihat sultan dan panglima tentara Demak. Fatahilah dikawinkan dengan adik Sultan Trenggono yang bernama Nyai Ratu Pembayun. Pada saat itu, Demak semakin maju karena Sultan Trenggono berusaha mengembangkan wilayahnya ke barat ataupun timur karena ancaman Portugis di sebelah barat semakin kuat.
Pada tahun 1522 Portugis sudah memasuki Sunda Kelapa. Kedatangan Portugis selain berdagang, yaitu mengembangkan agama Kristen dan menghancurkan Islam. Kerajaan Islam Demak sangat khawatir melihat Sunda Kelapa akan diduduki Portugis. Pada tahun 1526 M Sultan trenggono menyiapkan tentaranya untuk menyerang Banten dan Sunda Kelapa yang terdiri dari Angkatan Darat dan Angkatan laut. Pemilihan Fatahilah sebagai komandan pasuka sangat tepat karena orang Portugis adalah musuh bebuyutan Fatahilah.
Dalam perjalanannya, tentara Demak singgah di Cirebon. Fatahilah menghadap Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah) dan menyampaikan maksudnya supaya mendapat bantuan dari tentara Cirebon. Cirebon memberi bantuan pasukan di bawah pimpinan pangeran Cirebon, Dipati Keling dan Dopati Cangkuang. Jumlah pasukan seluruhnya ada 1967 orang yang lengkap dengan persenjataannya. Sebelum menyerang ke Sunda Kelapa,
Fatahilah terlebih dahulu menyerang Banten. Tanpa banyak perlawanan, Pelabuhan Banten dapat ditundukkan pada tahun 1526 M. Tahun berikutnya barulah Fatahilah mangadakan serangan ke Sunda Kelapa dan pasukan Pajajaran sudah menghadangnya. Akan tetapi, penhadangan itu dipatahkan dengan mudah. Selanjutnya, pasukan Fatahilah menghadapi perlawanan Portugis yang dimpin oleh Francisco de Sa.
Dalam pertempuran ini, tentara Portugis mendapat kekalahan dan sisanya melarikan diri ke Malaka. Dengan hancurnya pasukan Portugis, Pelabuhan Banten dan Sunda Kelapa di bawah kekuasaan umat Islam. Sunda Kelapa dapat direbut fatahilah pada tanggal 22 Juni 1527 M.
Pada tahun 1646 Demak mengerahkan pasukannya ke Jawa Timur untuk menyerang Pasuruan. Penyerangan ini langsung dipimpin oleh Sultan Trenggono. Dalam pertempuran ini Sultan Trenggono gugur sehingga terpaksa pasukan Demak mengundurkan diri. Pengganti Trenggono ialah putranya yang bernama Sunan Prawoto, ia hanya memerintah satu tahun karena pada tahun 1546 M prawoto terbunuh.
Pada masa pemerintahan Sultan Trenggono, penyebaran Islam memperoleh perhatian besar. Masijid Demak yang didirikan oleh Raden Fatah direnovasi oleh Sultan Trenggono. Pada masa ini hidup sembilan wali (Wali Songo), yaitu Sunan Gunung Jati, Sunan Kudus, Sunan Kalijaga, dan Sunan Muria.
b. Kerajaan Islam Pajang (1546-1582)
Setelah Sultan Trenggono meninggal dunia pada tahun 1546 M di Demak terjadi perebutan kekuasaan di antara kerabat kerajaan Pangeran Sekar Seda ing Lapen (adik Trenggono) dengan Pangeran Prawoto (anak Trenggono). Pangeran Sekar Seda ing Lepen yang dibunuh oleh Sunan Prawoto mempunyai anak yang bernama Arya Penangsang. Ia merasa bahwa dialah yang berhak menjadi raja Demak, maka ia berusaha membunuh Sunan Prawoto, tetapi gagal dan akhirnya tewas di tangan Adiwijaya.
Dengan tewasnya Arya Penangsang, kekuasaan pindah ke tangan Adiwijaya dan pusat pemerintahan pun beralih dari Demak ka Pajang. Adiwijaya adalah anak Ki Kebo Kenanga dari Tingkir. Oleh karena itu, Adiwijaya disebut Joko Tingkir atau Mas Karebet. Adiwijaya menikah dengan puteri Sultan Trenggono dan diangkat menjadi adipati di Pajang. Adiwijaya membawa panji kebesaran Kerajaan Demak ke istana Pajang. Dalam menjalankan pemerintahannya, Adiwijaya dibantu oleh Ki Gede Panembahan. Selain menjadi Adipati di Mataram Ki Gede Panembahan menjadi komandan pasukan pengawal Panembahan Adiwijaya.
Sewaktu Ki Gede Panembahan mangkat tahun 1575 M, Raden Sutawijaya diangkat menjadi adipati Mataram dan komandan pasukan pengawal Adiwijaya menggantikan ayahnya, dengan gelar Pangeran Ngabehi Lor ing Pasar. Kemudian Raden Sutawijaya dijadikan penglima perang dengan gelar Senopati. Kesempatan ini digunakan untuk memperkuat pasukan di Mataram. Namun rencana ini diketahui oleh Adiwijaya, akhirnya Mataram diserang oleh Pajang yang dipimpin langsung Panembahan Adiwijaya. Dalam peperangan ini pasukan Pajang mendapat kekalahan dan Penembahan Adiwijaya pun tewas dalam pertempuran itu pada tahun 1582 M.
c. Kerajaan Islam Mataram (1582-1601)
Pendiri Kerajaan Islam Mataram ialah Sutawijaya putera Ki Gede Panembahan. Sewaktu Panembahan Adiwijaya meninggal dunia, di Demak terjadi pengangkatan Arya Pangiri menjadi Sultan Demak yang dilakukan oleh para pembesar Demak. Keadaan ini mengakibatkan kemarahan Sutawijaya sebagai Raja Mataram. Oleh karena itu, Sutawijaya memimpin pasukan Mataram dan Pajang untuk menyerang Demak. Arya Pangiri berhasil ditawan, tetapi ia dijadikan adipati lagi di Demak sesuai dengan pangkat yang lama.
Dengan adanya pertempuran antara Metaram dan Demak, maka putra mahkota Kerajaan Pajang yaitu Pangeran Benawa mengetahui kekuatan tentara Mataram. Ia pun tunduk kepada Senopati Sutawijaya. Dengan demikian, maka Sutawijaya yang bergelar Senopati ing Alogo menambah lagi gelarnya dengan Sayidin Panatogama, artinya pemimpin yang mengatur kehidupan beragama.
Usaha pertama kali yang dilakukan Senopati Sutawijaya ialah memadamkan pemberontakan yang timbul di Jawa Timur, seperti di Surabaya, Ponorogo, Madiun, Kediri, dan Pasuruan. Pada tahun 1601 M ia meninggal dunia, dan sepeninggalannya Kerajaan Mataram makin berkembang terutama pada masa Sultan Agung.
Setelah Senopati Sutawijaya meninggal dunia, pimpinan pemerintahan dilanjutkan oleh Mas Jolang dengan gelar Panembahan Sedo ing Krapyak. Ia memerintah tahun 1601-1613 M. Selama itu, Mas Jolang menyatukan wilayah kekuasaan Mataram yang diganggu oleh pemberontak-pemberontak yang yang tidak mau mengakui kekuasaan pemerintah pusat di Mataram. Akan tetapi, sebelum berhasil membasmi kerusuhan-kerusuhan, ia meninggal pada tahun 1613 M. Kemudian ia digantikan oleh Adipati Martapura. Tidak lama kemudian Adipati Martapura digantikan oleh saudaranya yang bernama Mas Rangsang atau Sultan Agung (1613-1645 M).
Langkah pertama yang dilakukan Sultan Agung ialah memerangi pemberontakan-pemberontakan yang terjadi di pesisir. Pada tahun 1617 M ia dapat menaklukan Mojokerto, Lasem, dan Pasuruan. Menyusul Madura takluk pada tahun 1624 M dan Surabaya tahun 1625 M. Setelah Madura dapat ditaklukan, diangkatlah seorang penguasa untuk seluruh Madura dengan gelar Cakraningrat I.
Setelah menguasai Jawa Tengah, Jawa Timur, dan sebagian Jawa Barat, pada tahun 1622 M ia dapat menaklukan Sukadana di Kalimantan Barat. Pada tahun 1639 M ia berusaha menaklukan Bali, tetapi usahanya gagal dan ia hanya dapat menaklukan wilayah Blambangan.
Pada masa pemerintahan Sultan Agung penjajah Belanda sudah menguasai Batavia. Hal ini mengakibatkan Sultan Agung bertekad mengusir belanda dari tanah Jawa. Pada tahun 1628 M ia mencoba menyerang Belanda yang berkedudukan di Batavia, tetapi usaha ini tidak berhasil. Angkatan Laut Belanda yang dipimpin oleh J.P. Coen dapat mengusir Sultan Agung dari Mataram.
Cara lain yang diusahakan untuk mematikan Belanda ialah dengan jalan pemboikotan, yaitu rakyat tidak boleh menjual makanan kepada belanda. Akan tetapi, usaha ini tidak berhasil karena tentara belanda lebih kuat dan peralatan perangnya lebih lengkap.
Pada tahun 1645 Sultan Agung meninggal dan digantikan oleh putranya yang bernama Amangkurat I (1646-1677 M). Semasa pemerintahan Sultan Agung banyak jasanya terutama dalam bidang kebudayaan. Pada tahun 1833 Sultan Agung menciptakan sastra Gending yang berisi pelajaran filsafat.
Adapun raja-raja yang telah memerintah di Mataram adalah sebagai berikut.
1. Sutawijaya ( 1586-1601 M).
2. Mas Jolang (Panembahan Sedo ing Krapyak) 1601-1613 M.
3. Sultan Agung (1613-1645 M).
4. Amangkurat I (1646-1677 M).
5. Amangkurat II (1677-1703 M).
6. Amangkurat III (1703-1705 M).
7. Pakubuwono I (1705-1719 M).
8. Sunan Prabu (1719-1727 M).
9. Pakubuwono II (1727-1747 M).
10. Pakubuwono III (1747-1749 M).
Jumat, 10 April 2015
Faktor yang Mempengaruhi Keutuhan NKRI
1.
Menurut Pembukaan UUD 1945, tujuan negara adalah untuk:
·
”Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia,”
·
”Memajukan kesejahteraan umum,”
·
”Mencerdaskan kehidupan bangsa,” dan
·
”Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian
abadi dan keadilan sosial.”
2.
Dalam pengertian LEMHANAS, ketahanan nasional mencakup konsep
ASTAGRAHA yang terdiri dari TRIGATRA dan PANCAGATRA. TRIGATRA terdiri dari
faktor :
·
Geografi,
·
Demografi,
·
Sumber daya alam
PANCAGATRA
terdiri dari unsur-unsur: Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial Budaya dan Hankam.
3.
Ideologi Negara adalah Pancasila. Ideologi ini kiranya cukup mantap,
walaupun selalu ada tekanan-tekanan baik dari ekstrim kanan maupun kiri.
Unsur
Politik sering kali menjadi persoalan, terutama dengan maraknya
kepartaian, menonjolnya kepentingan kelompok, dan kini ada yang di picu oleh
amandemen-amandemen UUD 1945 dan perkembangan OTDA.
Di
bidang Ekonomi; tercatat ada perbaikan-perbaikan pada Makro Ekonomi tetapi
belum terasa benar pengaruh positifnya ke bawah/kehidupan rakyat. Disamping itu
KKN dan penegakan hukum masih rumit.
Di
bidang SosBud; terasa sangat banyak pengaruh budaya luar terhadap budaya
nasional/lokal, dan kehidupan sosial masih sangat rawan terutama karena sangat
banyaknya terjadi bencana alam, persoalan etnis, dan persoalan pertanahan.
Di
bidang Hankam, berbagai-bagai persoalan masih di hadapi oleh NKRI seperti:
·
Mempertahankan kesatuan nasional dan integritas wilayah Indonesia.
·
Menghilangkan illegal fishing, illegal logging, penambangan liar, dan
lain-lain
·
Mencegah berbagai-bagai penyelundupan dan kejahatan serta pelanggaran
hukum lainnya, terutama di laut.
·
Penentuan yang jelas dari perbatasan Indonesia, baik di darat,
laut, dasar laut dan udaranya.
·
Masalah yang berkaitan dengan pelayaran internasional di laut-laut
Indonesia, khususnya masalah passage/lewat melalui perairan kepulauan/laut
wilayah, dan melalui ”archipelagic sealanes passage” melewati ALKI di
bagian-bagian tertentu periaran Indonesia.
·
Masih belum habisnya persoalan terorisme di dalam negeri maupun di
kawasan Asia Tenggara.
·
Masih adanya pikiran-pikiran separatisme didaerah tertentu
·
Masih banyaknya hujatan-hujatan terhadap TNI, POLRI dan penegak hukum
lainnya yang berkaitan dengan proses demokratisasi, perlindungan HAM, kebebasan
Pers, dan kewenangan OTDA. Hal-hal ini sering berkesan ”kebablasan”.
·
Masih sangat minimnya anggaran pertahanan dan keamanan negara. (lihat
table perbandingan Anggaran Belanja Pertahanan terlampir)
·
Belum jelasnya perimeter pertahanan Indonesia, baik ke laut dan samudera
maupun keudara.
4.
Ada tiga tiang utama Indonesia yang tidak boleh di goyang-goyang atau di
gerogotin, demi pemantapan ketahanan nasional, yaitu:
·
Tiang satu bangsa (Sumpah Pemuda 1928)
·
Tiang satu negara (Proklamasi Kemerdekaan 1945)
·
Tiang satu wilayah (Deklarasi Juanda 1957)
Tiang ”satu
bangsa” harus menonjolkan Bhinneka Tunggal Ika dan harus mampu
menempatkan rasa kedaerahan pada tempat yang wajar sebagai bagian dan
unsur dari ke-Indonesia-an.
Tiang ”satu
negara” adalah NKRI, bukan federalisme ataupun federated states
ataupun confederated states, ataupun separatisme. OTDA haruslah dalam rangka
NKRI dan pemberdayaan daerah yang memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan dalam
UU.
Tiang ”satu
wilayah” adalah satu kesatuan antara darat, laut, dasar laut,
udara di atas laut, dan seluruh kekayaan yang terkandung di
dalamnya.
5.
Kelautan Indonesia.
·
Setelah perjuangan yang sangat panjang sejak tahun 1957, maka dunia kini
mengakui kelautan Indonesia yang tediri dari tiga komponen utama, yaitu:
Kewilayahan yang
berada dibawah kedaulatan Indonesia, yang terdiri dari perairan
pedalaman, perairan kepulauan/nusantara, dan laut wilayah/ laut territorial.
Hak-hak
Berdaulat Indonesia atas kekayaan alam dan wewenang-wewenang tertentu
di luar wilayah Indonesia, yang terdiri dari Zona Tambahan, ZEE, dan Landas
Kontinen.
Kepentingan Indonesia di
luar hak-hak berdaulatnya yaitu diLaut Bebas/samudera
luas dan didasar Laut Internasional. Kepentingan tersebut terutama
adalah untuk menjaga kepentingan pelautnya maupun untuk
ikut berpartisipasi dalam pemanfaatan kekayaan alamnya dan mengelola
lingkungan lautnya.
·
Udara yang ada di atas kewilayahan Indonesia adalah wilayah udara Indonesia.
·
Kedaulatan kewilayahan Indonesia meliputi kedaulatan atas darat,
laut, dasar laut dan tanah di bawahnya, udara di atas wilayah lautnya, dan
seluruh kekayaannya.(Pertama)
Faktor-faktor
yang mempengaruhi pemantapan ketahanan nasionaldalam menjaga keutuhan
NKRI.
·
Posisi silang Indonesia yang sangat strategis
·
Kekayaan alamnya yang selalu menjadi incaran bangsa-bangsa lain.
·
Struktur geografisnya sebagai negeri kepulauan dengan pantai yang sangat
panjang dan ”poros” dan laut yang terbuka lebar di antaranya, yang dengan
demikian mudah menjadi tujuan subversi, intrusi, penyelundupan dan lain-lain.
·
Penduduk yang besar jumlahnya, dengan struktur kependudukan yang tidak merata
antara Indonesia bagian barat dan bagian timur dengan perkembangan yang juga
tidak merata.
·
Banyaknya persoalan-persoalan dalam negeri, baik persoalan horizontal
antar daerah, maupun vertikal antara daerah maupun pusat, maupun antar
lembaga-lembaga negara dipusat dan didaerah.
·
Indonesia masih dalam tahap ”transformasi” dan reformasi yang membawa
akibat-akibat positif dan negatif terhadap kemantapan ketahanan nasional, baik
karena peralihan kekuasaan/kewenangan negara, maupun karena proses
demokratisasi, dan lain-lain.
·
Situasi ekonomi dan keuangan Indonesia yang masih sangat terbatas untuk
meningkatkan kemampuan pertahanan dan penegakan keamanan, baik di darat, laut,
maupun diudara.
·
Berbagai-bagai permasalahan perbatasan, baik darat, laut, termasuk dasar
laut, dan udara yang mewajibkan Indonesia mau tidak mau harus meningkatkan
kemampuan pertahanan dan keamanannya untuk memantapkan ketahanan nasional dalam
menjaga keutuhan NKRI.
·
Persepsi dunia luar terhadap Indonesia yang kadang-kadang ada yang tidak
terlalu positif, seperti :
kerusakan
lingkungan terutama hutan, yang sangat cepat,
sering
terjadinya kekerasan,
keragu-raguan
atau ketidak mampuan Pemerintah bertindak tegas menghadapi persoalan,
salah
satu dari negara yang paling korup di dunia (No.5),
penguasa
yang sering menyalahgunakan kewenangan,
terlalu
sering terjadi bencana, baik yang di buat manusia ataupun karena alam,
banyak
kejahatan dan bajak laut, dan lain-lain.
Berkembangnya
proses globalisasi di dunia, baik di bidang ekonomi, ideologi, maupun
transportasi/komunikasi.
Sumber : http://www.wilayahpertahanan.com/pemantapan-sistem-ketahanan-nasional-dalam-menjaga-keutuhan-nkri/
Kamis, 29 Januari 2015
Masalah Kependudukan dalam Hubungannya dengan Perkembangan Masyarakat dan Kebudayaan
Sesuai
dengan judul diatas , saat ini banyak sekali muncul masalah-masalah
kependudukan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan kebudayaannya. Masalah-masalah
tersebut muncul karena berbagai faktor. Dimana faktor tersebut bisa berasal dari Luar
(Eksternal) atau dari dalam (Internal) negeri. Perubahan tersebut bisa
menyebabkan dampak Positif dan Negatif.
Masalah individu, keluarga dan masyarakat
Kaitan
antara individu, keluarga dan masyarakat adalah bahwa individu merupakan bagian
terkecil dari sebuah masyarakat dan keluarga merupakan lembaga sosial yang
paling sederhana dalam sebuah masyarakat. Meskipun demikian, individu dan keluaraga
memegang peran penting dalam proses perkembangan masyarakat dan kebudayaan.
Masalah-masalah yang muncul di dalam masyarakat tentunya berawal dari individu,
bahkan keluarga memiliki andil, karena biasanya individu yang berperilaku
menyimpang berasal dari keluarga yang sosialisasinya tidak sempurna atau ada
fungsi dari keluarga yang tidak berjalan dengan baik. Pewarisan budaya juga
tentu yang paling awal adalah melalui keluarga (keturunan). Dari pemaparan
diatas saya mengambil contoh misalkan program jam belajar pukul 18.00 sampai 21.00 yang disosialisasikan oleh
pemerintah kota Depok agar anak-anak terhindar dari tayangan televisi yang
tidak bermutu dan merusak seperti sinetron dan sejenisnya. Pemerintah hendak
membudayakan untuk tidak menyalakan tv di jam-jam tersebut agar anak-anak bisa
focus belajar. Disinilah dapat dilihat bahwa keluarga memiliki pengaruh besar
terhadap perkembangan masyarakat dan kebudayaan. Terbukti dengan pemerintah
yang langsung membidik keluarga sebagai partner untuk menyukseskan program
tersebut, bukan dari sekolah maupun pihak lainnya.
Masalah pemuda dan sosialisasi
Tantangan
yang dihadapi oleh bangsa Indonesia pada saat ini adalah lunturnya rasa
nasionalisme dan kecintaan terhadap budaya oleh generasi mudanya. Derasnya arus
globalisasi menggerus kecintaan mereka terhadap Indonesia. Budaya hedonisme dan
konsumerisme seolah tidak bisa terlakkan. Kurangnya sosialisasi terhadap
pentingnya rasa nasionalisme, cinta tanah air dan kebudayaan pun memiliki andil
dalam fenomena generasi muda yang hedonis pada saat ini. Pada faktanya, tidak
hanya generasi muda yang tergerus rasa nasionalismenya oleh arus globalisasi,
tapi juga orang-orang dewasanya. Ini yang membuat mereka lupa atau bahkan
enggan untuk menanamkan kepada generasi selanjutnya untuk tetap menjaga budaya
Indonesia yang kita punya. Dari pemaparan diatas saya mengambil contoh
keberadaan organisasi IYC (Indonesian youth conference) dan ISU (Indonesia
student united) yang mana mereka konsen terhadap pelestarian budaya dan
rasa nasionalisme, dan sasaran organisasi tersebut adalah generasi muda agar
rasa cinta tanah air dan budaya Indonesianya tetap terjaga
Masalah hubungan antara warga dan negara
Warga Negara adalah rakyat yang menetap di suatu
wilayah tertentu dalam hubungannya dengan negara. Sedangkan “Negara”
berasal dari bahasa asing Staat (Belanda, Jerman), atau State (Inggris). Kata
Staat atau State pun berasal dari bahasa Latin, yaitu status atau statum yang
berarti “menempatkan dalam keadaan berdiri, membuat berdiri, dan menempatkan”.
Hal yang paling sering terjadi antara warga dan negara adalah kurangnya
kepastian hukum yang berlaku, kurangnya perlindungan dari negara kepada
rakyat/warganya, dan kurangnya toleransi. Sehingga memunculkan banyaknya
konflik dan perpecahan antar warga negara itu sendiri.
Masalah pelapisan sosial dan kesamaan derajat
Masalah
ini biasanya disebabkan oleh tingkat pendidikan atau penghasilan. Yang dimana
terjadi perbedaan derajat antara “Si Kaya” dan “Si Miskin”. Jaman sekarang
untuk melamar pekerjaan hal yang paling utama ditanya adalah “pendidikan
terakhir anda apa?”, yang menyebabkan kedepannya menyulitkan orang tersebut
susah untuk mendapatkan pekerjaan, akan tetapi untuk terus melanjutkan
pendidikan hingga tinggi dibutuhkan uang yang lumayan banyak. Dan terkadang
banyak orang kaya yang meremehkan rakyat kecil..
Masalah masyarakat perkotaan dan pedesaan
Perkembangan
masyarakat perkotaan itu sebenernya lebih dinamis dari pada masyarakat desa,
terutama yang ada di kota-kota besar. Karena mereka biasanya bersentuhan
langsung dan berada dekat dengan hubungan internasional yang identik dengan
globalisasi. Soal gadget, fashion, dan sebagainya, tentu
masyarakat perkotaan duluan yang mencicipinya daripada masyarakat desa, dan
persoalan kebudayaan disini adalah budaya hidup yang hedonis dan konsumtif
telah dianut oleh sebagian besar masyarakat perkotaan. Sementara masyarakat
pedesaan, perkembangannya cenderung lambat, seperti yang telah disebutkan
sebelumnya, namun masyarakat desa juga cenderung bersikap seperti “craving
for modernism” sehingga menjadikan masyarakat perkotaan sebagai kiblat dan
panutan mereka. Segala sesuatu yang disebut modern akan menarik perhatian
mereka. Bahkan, sampai muncul budaya “ke Jakarta setelah lebaran” atau disebut
urbanisasi karena Jakarta dilihat sebagain poros modernisasi Indonesia dan ada
stigma bahwa jika pindah ke Jakarta maka itu keren. Hal itulah yang menyebabkan
penduduk di Jakarta membludak dan membuat pemerintah kewalahan soal kemiskinan
dan lapangan pekerjaan bagi mereka kaum urban. Permasalahan budaya masyarakat
pedesaan adalah tergerusnya ketradisionalan dan budaya mereka akibat
ikut-ikutan masyarakat kota agar dibilang modern dan keren. Padahal tidak
selalu yang modern itu keren.
Masalah pertentangan sosial
Perkembangan
masyarakat dan budaya itu kaitannya dengan konflik adalah masyarakat itu gak
bakalan statis, pasti dinamis dan terus berubah-ubah. Komposisinya semakin
heterogen. Karena heterogenitas itulah bisa jadi penyebab munculnya
pertentangan sosial bahkan sampai konflik. Itu kalo masyarakat gak bisa
menerima perkembangan masyarakat yang semakin heterogen. Contohnya dulu itu kan
LGBT gak keekspos. Tapi sekarang mereka mulai naik ke permukaan, unjuk gigi
bahkan memperjuangkan hak untuk kaum mereka. ini bukti bahwa masyarakat dinamis
dan semakin heterogen. Tapi keberadaan mereka kaum LGBT itu memicu pertentangan
bahkan konflik karena tentunya ada yang pro dan kontra terhadap keberadaan
mereka yang hendak menuntut kesetaraan.
Senin, 26 Januari 2015
Tugas ISD -Teori George Herbert Tentang Pengembangan Diri Manusia-
Biografi Singkat George Herbert Mead
George Herbert Mead lahir di south Hadley, massacussetts,
Amerika pada 27 febuari 1863, anak dari seorang pendeta. Ayahnya bernama Hiram
Mead, sedangkan ibunya bernama Elizabert Storrt Mead adalah seorang yang
berkependidikan yang mengajar di obelin college selama dua tahun, kemudian
menjadi presiden di mount holkoye college selama 10 tahun.
Ketika berumun 10 tahun, George H. mead masuk fakultas
teologi di Oberlin di ohio, dan selesai pada tahun 1883. Ketika menjadi
mahasiswa di sini dia berteman dengan henry castel, seorang yang berasal dari
keluarga kaya dan berpendidikan baik. Mereka sesing berdiskusi tentang filsafat
dan agama sehingga semakin kritis dan mereka banyak mengembangkan tentang
sastra, puisi dan sejarah.
Setelah ia lulus pada umur 20 tahun dan ia mengajar di
sebuahsekolah. Namun hanya sebentar karena mendapat penolakann oleh muridnya
yang sering gaduh dan tidak serius dalam belajar, kemudian ia bekarja sebagai
pekerja survei yang menyusun batas jalan sepanjang 1100 mil dari Minnesota
sampai Saskatchewan. Selama tahun-tahun itu mead mendapat pengalaman tentang
teknik sipil dan mendapatkan apresiasi dari kekuatan dan kemanfaatan
praktis atas metode ilmiah.
Mead masuk ke
universitas Harvart, tempat ia menghabiskan waktu setahun untuk mengkaji
filsafat dan psikologi bersama dengan bahasa latin, yunani dan subyek lain.
Pada waktu itu ia tertarik pada romantic dan idealistis. Kemudian 3 tahun ia
pergi ke jerman ia mempelajari pandangan atau filosofi idealis jermania semakin
menunjukan keterkaitannya pada psikologi ketimbang filsafat. Pada tahun 1891
ia kembali ke AS mengajar di universitas Michigan ia mengajar selama 3
tahun. Di tahun 1894 ia bergabung dengan departemen filosofi di unifersitas
Chicago dan tetap disana hingga meninggal di tahun 1931.
PROSES SOSIALISASI MENURUT GEORGE HERBERT MEAD
TAHAP PERSIAPAN (PREPARATORY STAGE)
Tahap ini dialami sejak manusia dilahirkan, saat seorang
anak mempersiapkan diri untuk mengenal dunia sosialnya, termasuk untuk
memperoleh pemahaman tentang diri. Pada tahap ini juga anak-anak mulai
melakukan kegiatan meniru meski tidak sempurna. Contoh: Kata “makan” yang
diajarkan ibu kepada anaknya yang masih balita diucapkan “mam”. Makna kata
tersebut juga belum dipahami tepat oleh anak. Lama-kelamaan anak memahami
secara tepat makna kata makan tersebut dengan kenyataan yang dialaminya.
TAHAP MENIRU (PLAY STAGE)
Tahap ini ditandai dengan semakin sempurnanya seorang anak
menirukan peran-peran yang dilakukan oleh orang dewasa. Pada tahap ini mulai
terbentuk kesadaran tentang nama diri dan siapa nama orang tuanya, kakaknya,
dan sebagainya. Anak mulai menyadari tentang apa yang dilakukan seorang ibu dan
apa yang diharapkan seorang ibu dari anak. Dengan kata lain, kemampuan untuk
menempatkan diri pada posisi orang lain juga mulai terbentuk pada tahap ini.
Kesadaran bahwa dunia sosial manusia berisikan banyak orang telah
mulai terbentuk. Sebagian dari orang tersebut merupakan orang-orang yang
dianggap penting bagi pembentukan dan bertahannya diri, yakni dari mana anak
menyerap norma dan nilai. Bagi seorang anak, orang-orang ini disebut
orang-orang yang amat berarti (Significant other)
TAHAP SIAP BERTINDAK (GAME STAGE)
Peniruan yang dilakukan sudah mulai berkurang dan digantikan
oleh peran yang secara langsung dimainkan sendiri dengan penuh kesadaran.
Kemampuannya menempatkan diri pada posisi orang lain pun meningkat sehingga
memungkinkan adanya kemampuan bermain secara bersama-sama. Dia mulai menyadari
adanya tuntutan untuk membela keluarga dan bekerja sama dengan teman-temannya.
Pada tahap ini lawan berinteraksi semakin banyak dan hubunganya semakin
kompleks. Individu mulai berhubungan dengan teman-teman sebaya di luar rumah.
Peraturan-peraturan yang berlaku di luar keluarganya secara bertahap juga mulai
dipahami. Bersamaan dengan itu, anak mulai menyadari bahwa ada norma tertentu
yang berlaku di luar keluarganya.
TAHAP PENERIMAAN NORMA KOLEKTIF (GENERALIZED
STAGE/GENERALIZED OTHER)
Pada tahap ini seseorang telah dianggap dewasa. Dia sudah
dapat menempatkan dirinya pada posisi masyarakat secara luas. Dengan kata lain,
ia dapat bertenggang rasa tidak hanya dengan orang-orang yang berinteraksi
dengannya tapi juga dengan masyarakat luas. Manusia dewasa menyadari pentingnya
peraturan, kemampuan bekerja sama–bahkan dengan orang lain yang tidak
dikenalnya– secara mantap. Manusia dengan perkembangan diri pada tahap ini telah
menjadi warga masyarakat dalam arti sepenuhnya.
Dampak Sosial Media
Kemunculan jejaring sosial di dunia maya merupakan fenomena sosial yang seolah memiliki dua wajah. Mengapa demikian? Karena dalam kemunculannya, ia memiliki begitu banyak manfaat bagi penggunanya. Tentunya sebagian besar dari kita telah merasakan betapa facebook dan jejaring sosial lainnya dapat membantu kita menemukan teman lama kita lewat akunnya. Jejaring sosial juga dapat dijadikan alat untuk memotori gerakan sosial, misalkan lewat hastag di twitter.
Jejaring sosial juga kini dijadikan sebagai tempat sosialisasi, melakukan interaksi sekaligus menampung aspirasi para penggunanya. Bisa kita lihat pada sekarang-sekarang ini acara berita di tv maupun radio menampilkan aspirasi dan tanggapan masyarakat yang masuk kea kun jejaring sosial acara tersebut. Hal ini menunjukan bahwa fungsi sebuah jejaring sosial tidak lagi sebatas untuk melakukan interaksi dan menambah lingkup pertemanan, tapi juga sebagai wadah aspirasi dan sebagai alat control sosial.
Banyak orang dihujat di jejaring sosial karena perbuatan-perbuatan tertentu, hal tersebut menunjukan bahwa jejaring sosial sebagai alat control sosial karena masyarakat bisa menegur orang yang sekiranya melakukan penyimpangan lewat jejaring sosial. Selain itu, keberadaan jejaring sosial juga membuat banyak lapangan kerja baru, terbukti dengan menjamurnya pengusaha yang berjualan lewat online shop.
Dengan segala manfaat yang diberikan oleh jejaring sosial, ternyata banyak juga kasus-kasus yang menunjukan bahwa ternyata jejaring sosial memiliki efek buruk bagi penggunanya. Mulai dari kecanduan untuk online, kasus penipuan (biasanya terkait dengan transaksi online) dan lain sebagainya. Jadi kita sebagai generasi muda jadikanlah media sosial ini sebagai wadah yang bemanfaat dan gunakanlah fasilitas ini dengan bijak karena dampak kebaikannya pun akan bertimbal balik ke diri kita juga.
Rabu, 21 Januari 2015
PUISI GUNADARMA
Perkuliahan. . .
Satu frase banyak cerita
Ini bukan soal dimana saya menuntut ilmu
Ataupun ilmu apa yang sekarang saya timba
Tapi ini soal perjuangan dan pengorbanan
Yang ditempuh oleh semua mahasiswa
Demi tiga huruf dibelakang nama
Gelar sarjana
Ketika anak seusia kami telah usai menuntut ilmunya
Kembali ke rumah, berkumpul bersama keluarga
Atau mengerjakan tugas dan merehatkan badannya
Kami baru memulai melangkahkan kaki ini menuju tempat kami
menimba ilmu
Gunadarma
Ketika anak seusia kami sedang bersantai di akhir pekan
Berkumpul dengan keluarga
Sahabat
Atau bahkan kekasih
Kami harus mengorbankan semua itu
Tentu tidaklah mudah
Sama sekali tidak mudah.
Menjadi mahasiswa kelas malam memang tidaklah mudah
Tidak jarang berat sekali kaki ini dibawa melangkah untuk
menuntut ilmu
Tenaga yang terkuras setelah seharian beraktifitas
Pikiran yang penat
Terkadang terasa sangat menyulitkan kami
Tugas yang menumpuk
Waktu yang tersita
Pikiran yang tertekan
Kemunculan rasa penat dan jenuh adalah sebuah keniscayaan
Sebuah keniscayaan yang kelak akan dialami oleh kami
Kami yang berada di tingkatan tertinggi dalam kasta pelajar
Mahasiswa
Di tengah kepenatan dan kejenuhan yang datang
Muncul setitik rasa syukur dalam diri ini
Setidaknya saya adalah satu orang beruntung yang terpilih
Diantara ribuan orang diluar sana yang mengidamkan
Dan begitu ingin untuk mengecap rasa itu
Rasa menuntut ilmu diatas bangku perkuliahan
Berada di tingkat tertinggi dalam kasta pelajar
Dunia perkuliahan tidak seindah yang kita lihat di televisi
Menuntut ilmu juga tidak semudah menggunakan kaus kaki
Tapi kami percaya, sebuah hasil tidak akan mengkhianati
prosesnya
Begitu juga dengan perjuangan dan pengorbanan kami.
Selasa, 20 Januari 2015
Manusia Sebagai Makhluk Sosial dan Berbudaya
Pada hakikatnya manusia adalah
makhluk ciptaan Allah azza wa jalla yang dikenal sebagai makhluk sosial dan
makhluk budaya. Dikatakan makhluk sosial karena manusia tidak bisa hidup
sendiri dan pasti membutuhkan bantuan orang lain dalam kehidupannya. Sebagai
makhluk budaya manusia pun diciptakan oleh sang maha pencipta itu berbeda-beda,
dan tersebar diseluruh penjuru dunia, maka dari itu manusia memiliki latar
belakang dan budaya yang berbeda-beda di berbagai penjuru dunia.
Kaitannya dengan ilmu sosial dasar bahwasannya
sebagai makhluk sosial dan budaya manusia pasti memiliki
permasalahan-permasalahan dalam kehidupannya. Apalagi permasalahan tersebut
salah satunya timbul dari kebudayaan. Maka dari itu ilmu sosial dasar disini
mengkaji keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam hubungan antar manusia
maupun kebudayaannya.
Masyarakat dalam kehidupannya pasti
mengalami perubahan. Perubahan yang terjadi bukan hanya menuju ke arah
kemajuan, tetapi dapat juga menuju kearah kemunduran. Terkadang perubahan-perubahan
yang terjadi berlangsung dengan cepat, sehingga membingungkan dan menimbulkan
kejutan budaya bagi masyarakat.
Perubahan itu dapat muncul dari
berbagai macam aspek dalam kehidupan di masyarakat seperti mata pencaharian,
peralatan dan perlengkapan hidup, sistem kemasyarakatan, bahasa, kesenian, sistem
pengetahuan, serta keyakinan. Perubahan diberbagai bidang sering disebut
sebagai perubahan sosial dan perubahan budaya karena proses berlangsungnya
dapat terjadi secara bersamaan.
Dalam hubungannya dengan manusia
sebagai makhluk sosial, manusia selalu hidup bersama dengan manusia lainnya. Dorongan
masyarakat yang dibina sejak lahir akan selalu menampakan dirinya dalam
berbagai bentuk, karena itu dengan sendirinya manusia akan selalu bermasyarakat
dalam kehidupannya.
Manusia dikatakan sebagai makhluk
sosial, juga karena pada diri manusia ada dorongan dan kebutuhan untuk
berhubungan (interaksi) dengan orang lain, manusia juga tidak akan bisa hidup
sebagai manusia kalau tidak hidup di tengah-tengah manusia.
Tanpa bantuan manusia lainnya,
manusia tidak mungkin bisa berjalan dengan tegak. Dengan bantuan orang lain,
manusia bisa menggunakan tangan, bisa berkomunikasi atau bicara, dan bisa
mengembangkan seluruh potensi kemanusiaannya.
Dapat disimpulkan, bahwa manusia
dikatakan sebagai makhluk sosial, karena beberapa alasan, yaitu:
a. Manusia
tunduk pada aturan, norma sosial.
b. Perilaku
manusia mengaharapkan suatu penilain dari orang lain.
c. Manusia
memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain
d. Potensi
manusia akan berkembang bila ia hidup di tengah-tengah manusia
Manusia disebut sebagai
makhluk yang berbudaya tidak lain adalah makhluk yang senantiasa mendayagunakan
akal budinya untuk menciptakan kebahagiaan, karena yang membahagiakan hidup
manusia itu hakikatnya sesuatu yang baik, benar dan adil, maka hanya manusia
yang selalu berusaha menciptakan kebaikan, kebenaran dan keadilan sajalah yang
berhak menyandang gelar manusia berbudaya.
Budaya adalah suatu pola dari
asumsi-asumsi dasar (keyakinan dan harapan) yang ditemukan ataupun dikembangkan
oleh suatu kelompok tertentu dari organisasi, dan kemudian menjadi acuan
dalam mengatasi persoalan-persoalan yang berkaitan dengan adaptasi keluar
dan integrasi internal, dan karena dalam kurun waktu tertentu telah
berjalan atau bekerja dengan baik, maka dipandang sah, akhirnya kebudayaan
dibakukan bahwa setiap anggota organisasi harus menerimanya sebagai cara
yang tepat dalam pendekatan pelaksanaan pekerjaan-pekerjaan dalam organisasi.
Sedangkan kebudayaan yaitu
sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau
gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan
sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Kata budaya atau kebudayaan itu
sendiri berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk
jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan
dengan budi dan akal manusia.
Pengaruh manusia dan kebudayaannya
dalam sosiologi manusia dan kebudayaan dinilai sebagai dwitunggal, maksudnya
bahwa walaupun keduanya berbeda tetapi keduanya merupakan satu kesatuan.
Manusia menciptakan kebudayaan, dan setelah kebudayaan tercipta maka kebudayaan
mengatur hidup manusia agar sesuai dengannya. Tampak bahwa keduanya akhirnya
merupakan
satu kesatuan.
Budaya yang dikembangkan oleh
manusia akan berimplikasi pada lingkungan tempat kebudayaan itu berkembang.
Suatu kebudayaan memancarkan suatu ciri khas dari masyarakatnya yang tampak
dari luar. Dengan menganalisis pengaruh akibat budaya terhadap lingkungan
seseorang dapat mengetahui, mengapa di sebuah lingkungan tertentu akan berbeda
kebiasaanya dengan lingkungan lainnya dan mengasilkan kebudayaan yang berbeda
pula.
Dari penjelasan diatas kita lihat
dizaman sekarang bahkan di negri kita sendiri budaya yang kita miliki sudah
mulai pudar. Alasannya karena pengaruh budaya luar dan generasi-generasi muda
kita yang sudah terkontaminasi pikirannya dengan pengaruh budaya luar. Walaupun
tidak semua kalangan muda seperti, masih ada sebagian dari kita yang menjaga
dan melestarikan budaya keaslian kita. Amat sangat prihatin bila kebudayaan
yang kita miliki itu hancur dari kalangan kita sendiri, maka dari itu kita
sebagai generasi penerus bangsa harus menjaga penuh kebudayaan kita secara
bekerja sama karena kebersamaan dan kerja sama akan membuat bangsa kita ini
semakin kuat dihadapan bangsa lainnya.
Langganan:
Postingan (Atom)









