Sesuai
dengan judul diatas , saat ini banyak sekali muncul masalah-masalah
kependudukan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan kebudayaannya. Masalah-masalah
tersebut muncul karena berbagai faktor. Dimana faktor tersebut bisa berasal dari Luar
(Eksternal) atau dari dalam (Internal) negeri. Perubahan tersebut bisa
menyebabkan dampak Positif dan Negatif.
Masalah individu, keluarga dan masyarakat
Kaitan
antara individu, keluarga dan masyarakat adalah bahwa individu merupakan bagian
terkecil dari sebuah masyarakat dan keluarga merupakan lembaga sosial yang
paling sederhana dalam sebuah masyarakat. Meskipun demikian, individu dan keluaraga
memegang peran penting dalam proses perkembangan masyarakat dan kebudayaan.
Masalah-masalah yang muncul di dalam masyarakat tentunya berawal dari individu,
bahkan keluarga memiliki andil, karena biasanya individu yang berperilaku
menyimpang berasal dari keluarga yang sosialisasinya tidak sempurna atau ada
fungsi dari keluarga yang tidak berjalan dengan baik. Pewarisan budaya juga
tentu yang paling awal adalah melalui keluarga (keturunan). Dari pemaparan
diatas saya mengambil contoh misalkan program jam belajar pukul 18.00 sampai 21.00 yang disosialisasikan oleh
pemerintah kota Depok agar anak-anak terhindar dari tayangan televisi yang
tidak bermutu dan merusak seperti sinetron dan sejenisnya. Pemerintah hendak
membudayakan untuk tidak menyalakan tv di jam-jam tersebut agar anak-anak bisa
focus belajar. Disinilah dapat dilihat bahwa keluarga memiliki pengaruh besar
terhadap perkembangan masyarakat dan kebudayaan. Terbukti dengan pemerintah
yang langsung membidik keluarga sebagai partner untuk menyukseskan program
tersebut, bukan dari sekolah maupun pihak lainnya.
Masalah pemuda dan sosialisasi
Tantangan
yang dihadapi oleh bangsa Indonesia pada saat ini adalah lunturnya rasa
nasionalisme dan kecintaan terhadap budaya oleh generasi mudanya. Derasnya arus
globalisasi menggerus kecintaan mereka terhadap Indonesia. Budaya hedonisme dan
konsumerisme seolah tidak bisa terlakkan. Kurangnya sosialisasi terhadap
pentingnya rasa nasionalisme, cinta tanah air dan kebudayaan pun memiliki andil
dalam fenomena generasi muda yang hedonis pada saat ini. Pada faktanya, tidak
hanya generasi muda yang tergerus rasa nasionalismenya oleh arus globalisasi,
tapi juga orang-orang dewasanya. Ini yang membuat mereka lupa atau bahkan
enggan untuk menanamkan kepada generasi selanjutnya untuk tetap menjaga budaya
Indonesia yang kita punya. Dari pemaparan diatas saya mengambil contoh
keberadaan organisasi IYC (Indonesian youth conference) dan ISU (Indonesia
student united) yang mana mereka konsen terhadap pelestarian budaya dan
rasa nasionalisme, dan sasaran organisasi tersebut adalah generasi muda agar
rasa cinta tanah air dan budaya Indonesianya tetap terjaga
Masalah hubungan antara warga dan negara
Warga Negara adalah rakyat yang menetap di suatu
wilayah tertentu dalam hubungannya dengan negara. Sedangkan “Negara”
berasal dari bahasa asing Staat (Belanda, Jerman), atau State (Inggris). Kata
Staat atau State pun berasal dari bahasa Latin, yaitu status atau statum yang
berarti “menempatkan dalam keadaan berdiri, membuat berdiri, dan menempatkan”.
Hal yang paling sering terjadi antara warga dan negara adalah kurangnya
kepastian hukum yang berlaku, kurangnya perlindungan dari negara kepada
rakyat/warganya, dan kurangnya toleransi. Sehingga memunculkan banyaknya
konflik dan perpecahan antar warga negara itu sendiri.
Masalah pelapisan sosial dan kesamaan derajat
Masalah
ini biasanya disebabkan oleh tingkat pendidikan atau penghasilan. Yang dimana
terjadi perbedaan derajat antara “Si Kaya” dan “Si Miskin”. Jaman sekarang
untuk melamar pekerjaan hal yang paling utama ditanya adalah “pendidikan
terakhir anda apa?”, yang menyebabkan kedepannya menyulitkan orang tersebut
susah untuk mendapatkan pekerjaan, akan tetapi untuk terus melanjutkan
pendidikan hingga tinggi dibutuhkan uang yang lumayan banyak. Dan terkadang
banyak orang kaya yang meremehkan rakyat kecil..
Masalah masyarakat perkotaan dan pedesaan
Perkembangan
masyarakat perkotaan itu sebenernya lebih dinamis dari pada masyarakat desa,
terutama yang ada di kota-kota besar. Karena mereka biasanya bersentuhan
langsung dan berada dekat dengan hubungan internasional yang identik dengan
globalisasi. Soal gadget, fashion, dan sebagainya, tentu
masyarakat perkotaan duluan yang mencicipinya daripada masyarakat desa, dan
persoalan kebudayaan disini adalah budaya hidup yang hedonis dan konsumtif
telah dianut oleh sebagian besar masyarakat perkotaan. Sementara masyarakat
pedesaan, perkembangannya cenderung lambat, seperti yang telah disebutkan
sebelumnya, namun masyarakat desa juga cenderung bersikap seperti “craving
for modernism” sehingga menjadikan masyarakat perkotaan sebagai kiblat dan
panutan mereka. Segala sesuatu yang disebut modern akan menarik perhatian
mereka. Bahkan, sampai muncul budaya “ke Jakarta setelah lebaran” atau disebut
urbanisasi karena Jakarta dilihat sebagain poros modernisasi Indonesia dan ada
stigma bahwa jika pindah ke Jakarta maka itu keren. Hal itulah yang menyebabkan
penduduk di Jakarta membludak dan membuat pemerintah kewalahan soal kemiskinan
dan lapangan pekerjaan bagi mereka kaum urban. Permasalahan budaya masyarakat
pedesaan adalah tergerusnya ketradisionalan dan budaya mereka akibat
ikut-ikutan masyarakat kota agar dibilang modern dan keren. Padahal tidak
selalu yang modern itu keren.
Masalah pertentangan sosial
Perkembangan
masyarakat dan budaya itu kaitannya dengan konflik adalah masyarakat itu gak
bakalan statis, pasti dinamis dan terus berubah-ubah. Komposisinya semakin
heterogen. Karena heterogenitas itulah bisa jadi penyebab munculnya
pertentangan sosial bahkan sampai konflik. Itu kalo masyarakat gak bisa
menerima perkembangan masyarakat yang semakin heterogen. Contohnya dulu itu kan
LGBT gak keekspos. Tapi sekarang mereka mulai naik ke permukaan, unjuk gigi
bahkan memperjuangkan hak untuk kaum mereka. ini bukti bahwa masyarakat dinamis
dan semakin heterogen. Tapi keberadaan mereka kaum LGBT itu memicu pertentangan
bahkan konflik karena tentunya ada yang pro dan kontra terhadap keberadaan
mereka yang hendak menuntut kesetaraan.











