Kamis, 29 Januari 2015

Masalah Kependudukan dalam Hubungannya dengan Perkembangan Masyarakat dan Kebudayaan


Sesuai dengan judul diatas , saat ini banyak sekali muncul masalah-masalah kependudukan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan kebudayaannya. Masalah-masalah tersebut muncul karena berbagai faktor. Dimana faktor tersebut bisa berasal dari Luar (Eksternal) atau dari dalam (Internal) negeri. Perubahan tersebut bisa menyebabkan dampak Positif dan Negatif.

Masalah individu, keluarga dan masyarakat

Kaitan antara individu, keluarga dan masyarakat adalah bahwa individu merupakan bagian terkecil dari sebuah masyarakat dan keluarga merupakan lembaga sosial yang paling sederhana dalam sebuah masyarakat. Meskipun demikian, individu dan keluaraga memegang peran penting dalam proses perkembangan masyarakat dan kebudayaan. Masalah-masalah yang muncul di dalam masyarakat tentunya berawal dari individu, bahkan keluarga memiliki andil, karena biasanya individu yang berperilaku menyimpang berasal dari keluarga yang sosialisasinya tidak sempurna atau ada fungsi dari keluarga yang tidak berjalan dengan baik. Pewarisan budaya juga tentu yang paling awal adalah melalui keluarga (keturunan). Dari pemaparan diatas saya mengambil contoh misalkan program jam belajar pukul  18.00 sampai 21.00 yang disosialisasikan oleh pemerintah kota Depok agar anak-anak terhindar dari tayangan televisi yang tidak bermutu dan merusak seperti sinetron dan sejenisnya. Pemerintah hendak membudayakan untuk tidak menyalakan tv di jam-jam tersebut agar anak-anak bisa focus belajar. Disinilah dapat dilihat bahwa keluarga memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan masyarakat dan kebudayaan. Terbukti dengan pemerintah yang langsung membidik keluarga sebagai partner untuk menyukseskan program tersebut, bukan dari sekolah maupun pihak lainnya.

Masalah pemuda dan sosialisasi

Tantangan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia pada saat ini adalah lunturnya rasa nasionalisme dan kecintaan terhadap budaya oleh generasi mudanya. Derasnya arus globalisasi menggerus kecintaan mereka terhadap Indonesia. Budaya hedonisme dan konsumerisme seolah tidak bisa terlakkan. Kurangnya sosialisasi terhadap pentingnya rasa nasionalisme, cinta tanah air dan kebudayaan pun memiliki andil dalam fenomena generasi muda yang hedonis pada saat ini. Pada faktanya, tidak hanya generasi muda yang tergerus rasa nasionalismenya oleh arus globalisasi, tapi juga orang-orang dewasanya. Ini yang membuat mereka lupa atau bahkan enggan untuk menanamkan kepada generasi selanjutnya untuk tetap menjaga budaya Indonesia yang kita punya. Dari pemaparan diatas saya mengambil contoh keberadaan organisasi IYC (Indonesian youth conference) dan ISU (Indonesia student united) yang mana mereka konsen terhadap pelestarian budaya dan rasa nasionalisme, dan sasaran organisasi tersebut adalah generasi muda agar rasa cinta tanah air dan budaya Indonesianya tetap terjaga

  
Masalah hubungan antara warga dan negara

Warga Negara adalah rakyat yang menetap di suatu wilayah tertentu dalam hubungannya dengan negara.  Sedangkan “Negara” berasal dari bahasa asing Staat (Belanda, Jerman), atau State (Inggris). Kata Staat atau State pun berasal dari bahasa Latin, yaitu status atau statum yang berarti “menempatkan dalam keadaan berdiri, membuat berdiri, dan menempatkan”. Hal yang paling sering terjadi antara warga dan negara adalah kurangnya kepastian hukum yang berlaku, kurangnya perlindungan dari negara kepada rakyat/warganya, dan kurangnya toleransi. Sehingga memunculkan banyaknya konflik dan perpecahan antar warga negara itu sendiri.

Masalah pelapisan sosial dan kesamaan derajat

Masalah ini biasanya disebabkan oleh tingkat pendidikan atau penghasilan. Yang dimana terjadi perbedaan derajat antara “Si Kaya” dan “Si Miskin”. Jaman sekarang untuk melamar pekerjaan hal yang paling utama ditanya adalah “pendidikan terakhir anda apa?”, yang menyebabkan kedepannya menyulitkan orang tersebut susah untuk mendapatkan pekerjaan, akan tetapi untuk terus melanjutkan pendidikan hingga tinggi dibutuhkan uang yang lumayan banyak. Dan terkadang banyak orang kaya yang meremehkan rakyat kecil..


Masalah masyarakat perkotaan dan pedesaan

Perkembangan masyarakat perkotaan itu sebenernya lebih dinamis dari pada masyarakat desa, terutama yang ada di kota-kota besar. Karena mereka biasanya bersentuhan langsung dan berada dekat dengan hubungan internasional yang identik dengan globalisasi. Soal gadget, fashion, dan sebagainya, tentu masyarakat perkotaan duluan yang mencicipinya daripada masyarakat desa, dan persoalan kebudayaan disini adalah budaya hidup yang hedonis dan konsumtif telah dianut oleh sebagian besar masyarakat perkotaan. Sementara masyarakat pedesaan, perkembangannya cenderung lambat, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, namun masyarakat desa juga cenderung bersikap seperti “craving for modernism” sehingga menjadikan masyarakat perkotaan sebagai kiblat dan panutan mereka. Segala sesuatu yang disebut modern akan menarik perhatian mereka. Bahkan, sampai muncul budaya “ke Jakarta setelah lebaran” atau disebut urbanisasi karena Jakarta dilihat sebagain poros modernisasi Indonesia dan ada stigma bahwa jika pindah ke Jakarta maka itu keren. Hal itulah yang menyebabkan penduduk di Jakarta membludak dan membuat pemerintah kewalahan soal kemiskinan dan lapangan pekerjaan bagi mereka kaum urban. Permasalahan budaya masyarakat pedesaan adalah tergerusnya ketradisionalan dan budaya mereka akibat ikut-ikutan masyarakat kota agar dibilang modern dan keren. Padahal tidak selalu yang modern itu keren.


Masalah pertentangan sosial


Perkembangan masyarakat dan budaya itu kaitannya dengan konflik adalah masyarakat itu gak bakalan statis, pasti dinamis dan terus berubah-ubah. Komposisinya semakin heterogen. Karena heterogenitas itulah bisa jadi penyebab munculnya pertentangan sosial bahkan sampai konflik. Itu kalo masyarakat gak bisa menerima perkembangan masyarakat yang semakin heterogen. Contohnya dulu itu kan LGBT gak keekspos. Tapi sekarang mereka mulai naik ke permukaan, unjuk gigi bahkan memperjuangkan hak untuk kaum mereka. ini bukti bahwa masyarakat dinamis dan semakin heterogen. Tapi keberadaan mereka kaum LGBT itu memicu pertentangan bahkan konflik karena tentunya ada yang pro dan kontra terhadap keberadaan mereka yang hendak menuntut kesetaraan.

Senin, 26 Januari 2015

Tugas ISD -Teori George Herbert Tentang Pengembangan Diri Manusia-

Biografi Singkat George Herbert Mead

George Herbert Mead lahir di south Hadley, massacussetts, Amerika pada 27 febuari 1863, anak dari seorang pendeta. Ayahnya bernama Hiram Mead, sedangkan ibunya bernama Elizabert Storrt Mead adalah seorang yang berkependidikan yang mengajar di obelin college selama dua tahun, kemudian menjadi presiden di mount holkoye college selama 10 tahun.

Ketika berumun 10 tahun, George H. mead  masuk fakultas teologi di Oberlin di ohio, dan selesai pada tahun 1883.  Ketika menjadi mahasiswa di sini dia berteman dengan henry castel, seorang yang berasal dari keluarga kaya dan berpendidikan baik. Mereka sesing berdiskusi tentang filsafat dan agama sehingga semakin kritis dan mereka banyak mengembangkan tentang sastra, puisi dan sejarah.

Setelah ia lulus pada umur 20 tahun dan ia mengajar di sebuahsekolah. Namun hanya sebentar karena mendapat penolakann oleh muridnya yang sering gaduh dan tidak serius dalam belajar, kemudian ia bekarja sebagai pekerja survei yang menyusun batas jalan sepanjang 1100 mil dari Minnesota sampai Saskatchewan. Selama tahun-tahun itu mead mendapat pengalaman tentang teknik sipil dan mendapatkan apresiasi  dari kekuatan dan kemanfaatan praktis atas metode ilmiah.

Mead masuk ke universitas Harvart, tempat ia menghabiskan waktu setahun untuk mengkaji filsafat dan psikologi bersama dengan bahasa latin, yunani dan subyek lain. Pada waktu itu ia tertarik pada romantic dan idealistis. Kemudian 3 tahun ia pergi ke jerman ia mempelajari pandangan atau filosofi idealis jermania semakin menunjukan keterkaitannya pada psikologi ketimbang filsafat. Pada tahun 1891 ia  kembali ke AS mengajar di universitas Michigan ia mengajar selama 3 tahun. Di tahun 1894 ia bergabung dengan departemen filosofi di unifersitas Chicago dan tetap disana hingga meninggal di tahun 1931.

PROSES SOSIALISASI MENURUT GEORGE HERBERT MEAD

TAHAP PERSIAPAN (PREPARATORY STAGE)


Tahap ini dialami sejak manusia dilahirkan, saat seorang anak mempersiapkan diri untuk mengenal dunia sosialnya, termasuk untuk memperoleh pemahaman tentang diri. Pada tahap ini juga anak-anak mulai melakukan kegiatan meniru meski tidak sempurna. Contoh: Kata “makan” yang diajarkan ibu kepada anaknya yang masih balita diucapkan “mam”. Makna kata tersebut juga belum dipahami tepat oleh anak. Lama-kelamaan anak memahami secara tepat makna kata makan tersebut dengan kenyataan yang dialaminya.


TAHAP MENIRU (PLAY STAGE)

Tahap ini ditandai dengan semakin sempurnanya seorang anak menirukan peran-peran yang dilakukan oleh orang dewasa. Pada tahap ini mulai terbentuk kesadaran tentang nama diri dan siapa nama orang tuanya, kakaknya, dan sebagainya. Anak mulai menyadari tentang apa yang dilakukan seorang ibu dan apa yang diharapkan seorang ibu dari anak. Dengan kata lain, kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain juga mulai terbentuk pada tahap ini. Kesadaran bahwa dunia sosial manusia berisikan banyak orang telah mulai terbentuk. Sebagian dari orang tersebut merupakan orang-orang yang dianggap penting bagi pembentukan dan bertahannya diri, yakni dari mana anak menyerap norma dan nilai. Bagi seorang anak, orang-orang ini disebut orang-orang yang amat berarti (Significant other)

TAHAP SIAP BERTINDAK (GAME STAGE)

Peniruan yang dilakukan sudah mulai berkurang dan digantikan oleh peran yang secara langsung dimainkan sendiri dengan penuh kesadaran. Kemampuannya menempatkan diri pada posisi orang lain pun meningkat sehingga memungkinkan adanya kemampuan bermain secara bersama-sama. Dia mulai menyadari adanya tuntutan untuk membela keluarga dan bekerja sama dengan teman-temannya. Pada tahap ini lawan berinteraksi semakin banyak dan hubunganya semakin kompleks. Individu mulai berhubungan dengan teman-teman sebaya di luar rumah. Peraturan-peraturan yang berlaku di luar keluarganya secara bertahap juga mulai dipahami. Bersamaan dengan itu, anak mulai menyadari bahwa ada norma tertentu yang berlaku di luar keluarganya.

TAHAP PENERIMAAN NORMA KOLEKTIF (GENERALIZED STAGE/GENERALIZED OTHER)



Pada tahap ini seseorang telah dianggap dewasa. Dia sudah dapat menempatkan dirinya pada posisi masyarakat secara luas. Dengan kata lain, ia dapat bertenggang rasa tidak hanya dengan orang-orang yang berinteraksi dengannya tapi juga dengan masyarakat luas. Manusia dewasa menyadari pentingnya peraturan, kemampuan bekerja sama–bahkan dengan orang lain yang tidak dikenalnya– secara mantap. Manusia dengan perkembangan diri pada tahap ini telah menjadi warga masyarakat dalam arti sepenuhnya.

Dampak Sosial Media


Kemunculan jejaring sosial di dunia maya merupakan fenomena sosial yang seolah  memiliki dua wajah. Mengapa demikian? Karena dalam kemunculannya, ia memiliki begitu banyak manfaat bagi penggunanya. Tentunya sebagian besar dari kita telah merasakan betapa facebook dan jejaring sosial lainnya dapat membantu kita menemukan teman lama kita lewat akunnya. Jejaring sosial juga dapat dijadikan alat untuk memotori gerakan sosial, misalkan lewat hastag di twitter. 

Jejaring sosial juga kini dijadikan sebagai tempat sosialisasi, melakukan interaksi sekaligus menampung aspirasi para penggunanya. Bisa kita lihat pada sekarang-sekarang ini acara berita di tv maupun radio menampilkan aspirasi dan tanggapan masyarakat yang masuk kea kun jejaring sosial acara tersebut. Hal ini menunjukan bahwa fungsi sebuah jejaring sosial tidak lagi sebatas untuk melakukan interaksi dan menambah lingkup pertemanan, tapi juga sebagai wadah aspirasi dan sebagai alat control sosial. 



Banyak orang dihujat di jejaring sosial karena perbuatan-perbuatan tertentu, hal tersebut menunjukan bahwa jejaring sosial sebagai alat control sosial karena masyarakat bisa menegur orang yang sekiranya melakukan penyimpangan lewat jejaring sosial. Selain itu, keberadaan jejaring sosial juga membuat banyak lapangan kerja baru, terbukti dengan menjamurnya pengusaha yang berjualan lewat online shop. 

Dengan segala manfaat yang diberikan oleh jejaring sosial, ternyata banyak juga kasus-kasus yang menunjukan bahwa ternyata jejaring sosial memiliki efek buruk bagi penggunanya. Mulai dari kecanduan untuk online, kasus penipuan (biasanya terkait dengan transaksi online) dan lain sebagainya. Jadi kita sebagai generasi muda jadikanlah media sosial ini sebagai wadah yang bemanfaat dan gunakanlah fasilitas ini dengan bijak karena dampak kebaikannya pun akan bertimbal balik ke diri kita juga. 

Rabu, 21 Januari 2015

PUISI GUNADARMA

Perkuliahan. . .
Satu frase banyak cerita
Ini bukan soal dimana saya menuntut ilmu
Ataupun ilmu apa yang sekarang saya timba
Tapi ini soal perjuangan dan pengorbanan
Yang ditempuh oleh semua mahasiswa
Demi tiga huruf dibelakang nama
Gelar sarjana

Ketika anak seusia kami telah usai menuntut ilmunya
Kembali ke rumah, berkumpul bersama keluarga
Atau mengerjakan tugas dan merehatkan badannya
Kami baru memulai melangkahkan kaki ini menuju tempat kami menimba ilmu
Gunadarma

Ketika anak seusia kami sedang bersantai di akhir pekan
Berkumpul dengan keluarga
Sahabat
Atau bahkan kekasih
Kami harus mengorbankan semua itu
Tentu tidaklah mudah
Sama sekali tidak mudah.

Menjadi mahasiswa kelas malam memang tidaklah mudah
Tidak jarang berat sekali kaki ini dibawa melangkah untuk menuntut ilmu
Tenaga yang terkuras setelah seharian beraktifitas
Pikiran yang penat
Terkadang terasa sangat menyulitkan kami

Tugas yang menumpuk
Waktu yang tersita
Pikiran yang tertekan
Kemunculan rasa penat dan jenuh adalah sebuah keniscayaan
Sebuah keniscayaan yang kelak akan dialami oleh kami
Kami yang berada di tingkatan tertinggi dalam kasta pelajar
Mahasiswa


Di tengah kepenatan dan kejenuhan yang datang
Muncul setitik rasa syukur dalam diri ini
Setidaknya saya adalah satu orang beruntung yang terpilih
Diantara ribuan orang diluar sana yang mengidamkan
Dan begitu ingin untuk mengecap rasa itu
Rasa menuntut ilmu diatas bangku perkuliahan
Berada di tingkat tertinggi dalam kasta pelajar

Dunia perkuliahan tidak seindah yang kita lihat di televisi
Menuntut ilmu juga tidak semudah menggunakan kaus kaki
Tapi kami percaya, sebuah hasil tidak akan mengkhianati prosesnya
Begitu juga dengan perjuangan dan pengorbanan kami.

Selasa, 20 Januari 2015

Manusia Sebagai Makhluk Sosial dan Berbudaya


Pada hakikatnya manusia adalah makhluk ciptaan Allah azza wa jalla yang dikenal sebagai makhluk sosial dan makhluk budaya. Dikatakan makhluk sosial karena manusia tidak bisa hidup sendiri dan pasti membutuhkan bantuan orang lain dalam kehidupannya. Sebagai makhluk budaya manusia pun diciptakan oleh sang maha pencipta itu berbeda-beda, dan tersebar diseluruh penjuru dunia, maka dari itu manusia memiliki latar belakang dan budaya yang berbeda-beda di berbagai penjuru dunia.


 Kaitannya dengan ilmu sosial dasar bahwasannya sebagai makhluk sosial dan budaya manusia pasti memiliki permasalahan-permasalahan dalam kehidupannya. Apalagi permasalahan tersebut salah satunya timbul dari kebudayaan. Maka dari itu ilmu sosial dasar disini mengkaji keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam hubungan antar manusia maupun kebudayaannya.

Masyarakat dalam kehidupannya pasti mengalami perubahan. Perubahan yang terjadi bukan hanya menuju ke arah kemajuan, tetapi dapat juga menuju kearah kemunduran. Terkadang perubahan-perubahan yang terjadi berlangsung dengan cepat, sehingga membingungkan dan menimbulkan kejutan budaya bagi masyarakat.

Perubahan itu dapat muncul dari berbagai macam aspek dalam kehidupan di masyarakat seperti mata pencaharian, peralatan dan perlengkapan hidup, sistem kemasyarakatan, bahasa, kesenian, sistem pengetahuan, serta keyakinan. Perubahan diberbagai bidang sering disebut sebagai perubahan sosial dan perubahan budaya karena proses berlangsungnya dapat terjadi secara bersamaan.

Dalam hubungannya dengan manusia sebagai makhluk sosial, manusia selalu hidup bersama dengan manusia lainnya. Dorongan masyarakat yang dibina sejak lahir akan selalu menampakan dirinya dalam berbagai bentuk, karena itu dengan sendirinya manusia akan selalu bermasyarakat dalam kehidupannya.

Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, juga karena pada diri manusia ada dorongan dan kebutuhan untuk berhubungan (interaksi) dengan orang lain, manusia juga tidak akan bisa hidup sebagai manusia kalau tidak hidup di tengah-tengah manusia.



Tanpa bantuan manusia lainnya, manusia tidak mungkin bisa berjalan dengan tegak. Dengan bantuan orang lain, manusia bisa menggunakan tangan, bisa berkomunikasi atau bicara, dan bisa mengembangkan seluruh potensi kemanusiaannya.
Dapat disimpulkan, bahwa manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, karena beberapa alasan, yaitu:
a.       Manusia tunduk pada aturan, norma sosial.
b.      Perilaku manusia mengaharapkan suatu penilain dari orang lain.
c.       Manusia memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain
d.      Potensi manusia akan berkembang bila ia hidup di tengah-tengah manusia

Manusia disebut sebagai makhluk yang berbudaya tidak lain adalah makhluk yang senantiasa mendayagunakan akal budinya untuk menciptakan kebahagiaan, karena yang membahagiakan hidup manusia itu hakikatnya sesuatu yang baik, benar dan adil, maka hanya manusia yang selalu berusaha menciptakan kebaikan, kebenaran dan keadilan sajalah yang berhak menyandang gelar manusia berbudaya.

Budaya adalah suatu pola dari asumsi-asumsi dasar (keyakinan dan harapan) yang ditemukan ataupun dikembangkan oleh suatu kelompok tertentu dari organisasi, dan kemudian menjadi acuan dalam mengatasi persoalan-persoalan yang berkaitan dengan adaptasi keluar dan integrasi internal, dan karena dalam kurun waktu tertentu telah berjalan atau bekerja dengan baik, maka dipandang sah, akhirnya kebudayaan dibakukan bahwa setiap anggota organisasi harus menerimanya sebagai cara yang tepat dalam pendekatan pelaksanaan pekerjaan-pekerjaan dalam organisasi.

Sedangkan kebudayaan yaitu sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Kata budaya atau kebudayaan itu sendiri berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia.



Pengaruh manusia dan kebudayaannya dalam sosiologi manusia dan kebudayaan dinilai sebagai dwitunggal, maksudnya bahwa walaupun keduanya berbeda tetapi keduanya merupakan satu kesatuan. Manusia menciptakan kebudayaan, dan setelah kebudayaan tercipta maka kebudayaan mengatur hidup manusia agar sesuai dengannya. Tampak bahwa keduanya akhirnya merupakan
satu kesatuan. 

Budaya yang dikembangkan oleh manusia akan berimplikasi pada lingkungan tempat kebudayaan itu berkembang. Suatu kebudayaan memancarkan suatu ciri khas dari masyarakatnya yang tampak dari luar. Dengan menganalisis pengaruh akibat budaya terhadap lingkungan seseorang dapat mengetahui, mengapa di sebuah lingkungan tertentu akan berbeda kebiasaanya dengan lingkungan lainnya dan mengasilkan kebudayaan yang berbeda pula. 

Dari penjelasan diatas kita lihat dizaman sekarang bahkan di negri kita sendiri budaya yang kita miliki sudah mulai pudar. Alasannya karena pengaruh budaya luar dan generasi-generasi muda kita yang sudah terkontaminasi pikirannya dengan pengaruh budaya luar. Walaupun tidak semua kalangan muda seperti, masih ada sebagian dari kita yang menjaga dan melestarikan budaya keaslian kita. Amat sangat prihatin bila kebudayaan yang kita miliki itu hancur dari kalangan kita sendiri, maka dari itu kita sebagai generasi penerus bangsa harus menjaga penuh kebudayaan kita secara bekerja sama karena kebersamaan dan kerja sama akan membuat bangsa kita ini semakin kuat dihadapan bangsa lainnya.



  





Selasa, 13 Januari 2015

Masalah Sosial - Penyakit Syaraf dan Aliran Sesat-

Masalah Sosial

Salah satu penyebab masalah sosial adalah faktor psikologis misalnya penyakit syaraf dan aliran sesat.  Mengapa penyakit syaraf dijadikan salah satu penyebab masalah sosial? Seperti pengertiannya masalah sosial itu ialah sebuah kondisi yang tidak diharapkan dan dianggap dapat merugikan kehidupan sosial serta bertentangan dengan standar sosial yang telah disepakati.



Skizofrenia merupakan salah satu penyakit syaraf. Penyakit ini mengacu pada pada tergannggunya keseimbangan emosi dan pikiran. Seseorang yang mederita penyakit ini akan melakukan hal-hal yang tidak biasanya dilakukan oleh orang normal lainnya seperti berbicara sendiri, tidak bisa meluapkan emosinya bahkan dengan memukuli dirinya sendiri, bertingkah tidak teratur, menjauh dari lingkungan sosial.

Dilihat dari kondisi diatas penyakit syaraf ini memang menjadi penyebab masalah sosial. Kita lihat seseorang yang menderita penyakit ini akan sulit bersosialisasi dengan orang lain dan parahnya orang-orang yang tidak mengerti akan menjauhi si penderita karena merasa kurang nyaman jika berada didekat si penderita. Sehingga dalam hidup penderita tidak akan dapat melakukan hubungan sosial yang baik layaknya orang normal lainnya. Belom lagi dari pihak keluarga yang tidak bisa menerima keadaan penderita ini, mungkin keluarga tersebut bisa melakukan tindakan yang kasar bahkan bisa masuk ke ranah hukum jika tidak bisa sabar dalam merawat dan menjaga penderita karena merasa malu dengan sikap dan tingkah laku penderita skizofrenia ini.

Beberapa yang mungkin menjadi sebab penyakit ini muncul yakni :

-           Kondisi hidup yang penuh stres
-           Sering mengkonsumsi obat psikoaktif selama masa remaja dan dewasa muda
-           Sering terkena paparan virus, racun, atau kekurangan gizi selama masa kehamilan, khususnya pada trimester pertama dan kedua

Tidak ada cara pasti untuk mencegah penyakit ini, namun pengobatan dini dapat membantu mencegah kekambuhan dan memburuknya gejala yang timbul akibat dari penyakit ini. Beberapa jenis tes seperti : Tes Laboratorium, Tes pencitraan dengan menggunakan magnetic resonance imaging (MRI) dan computed tomography (CT) scan, Evaluasi psikologis.

http://health.liputan6.com/read/673286/skizofrenia-gangguan-jiwa-akibat-fungsi-otak-terganggu



Selain hal diatas ada yang menjadi permasalahan sosial adalah aliran sesat. Seperti yang kita telah ketahui aliran sesat sudah banyak terjadi di negri kita tercinta ini. Salah satu contoh aliran sesat yang ada di negeri kita ini adalah inkarussunnah. Orang yang tidak mempercayai hadits Nabi saw sebagai landasan Islam, maka dia sesat. Itulah kelompok Inkar Sunnah.
Ada tiga jenis kelompok Inkar Sunnah. Pertama kelompok yang menolak hadits-hadits Rasulullah saw secara keseluruhan. Kedua, kelompok yang menolak hadits-hadits yang tak disebutkan dalam al-Qur’an secara tersurat ataupun tersirat. Ketiga, kelompok yang hanya menerima hadits-hadits mutawatir (diriwayatkan oleh banyak orang setiap jenjang atau periodenya, tak mungkin mereka berdusta) dan menolak hadits-hadits ahad (tidak mencapai derajat mutawatir) walaupun shahih. Mereka beralasan dengan ayat, “…sesungguhnya persangkaan itu tidak berguna sedikitpun terhadap kebenaran” (Qs An-Najm: 28). Mereka berhujjah dengan ayat itu, tentu saja menurut penafsiran model mereka sendiri.
Inkar Sunnah di Indonesia muncul tahun 1980-an ditokohi Irham Sutarto. Kelompok Inkar Sunnah di Indonesia ini difatwakan oleh MUI (Majelis Ulama Indonesia) sebagai aliran yang sesat lagi menyesatkan, kemudian dilarang secara resmi dengan Surat Keputusan Jaksa Agung No. Kep-169/ J.A./ 1983 tertanggal 30 September 1983 yang berisi larangan terhadap aliran inkarsunnah di seluruh wilayah Republik Indonesia.
Satu contoh diatas sudah terbukti membuat adanya permasalahan dimasyarakat. Karena bagaimana seorang muslim ingin beribadah sholat kalau sholat itu sendiri gerakan semuanya berdasarkan dari hadist? Untuk itu kita diharuskan untuk selalu paham dengan ilmu agama kita dengan baik dan benar dan dengan pemahaman sesuai dengan Al Quran dan As Sunnah, insya Allah kita selalu berada dalam naungan Allah azza wa jalla serta mendapat perlindungan dariNya.

 http://www.hasmi.org/inilah-daftar-aliran-sesat-islam-di-indonesia-yang-dirilis-mui-2013/