Senin, 17 November 2014

Pahlawan Kebersihan

 

Senin 17 November 2014

Pukul 07.39 WIB

Ialah Budi seorang tukang sapu jalanan yang tinggal di Lenteng Agung Jakarta Selatan. Sehari-hari ia bekerja sebagai tukang sapu jalanan. Dari tempat ia tinggal menuju lokasi pembersihan ia berjalan kaki sepanjang 2km dan menyapu dari lokasi A ke lokasi B sepanjang 2km juga jadi kalo ditotal 4 km sangat amat lah berat bagi kita untuk melakukan pekerjaan seperti ini.

Namun di mata beliau pekerjaan ini sangatlah mulia dimana tidak semua orang mau dan bahkan ikhlas mengerjakan pekerjaan ini. Beliau bekerja mulai dari jam 05.00 sampai 12.00. Beliau bekerja sebagai tukang sapu melalui PT Sua Klola (swasta) dan mendapat penghasilan perharinya Rp80.000 ya jadi kalo di total sebulan mencapai Rp2.400.000 gaji yang mungkin tidak sebanding dengan pekerjaannya.




Namun bapak dari satu orang anak ini tetap bersyukur dengan jerih payahnya "ya walaupun pendapatan saya hanya sekian tapi saya tetap bersyukur mas kalo kita bersyukur insya Allah rezeki kita akan terus bertambah", tuturnya.

Kendati demikian beliau sangat prihatin dengan kondisi warga yang masih susah untuk membuang sampah ditempatnya salah satu contohnya sepetinya membuang sampah di kali yang hal itu bisa membuat sumbatan di kali tersebut dan jika musim hujan tiba jalanan sekitarpun menjadi banjir.



Dari pekerjaannya tersebut ternyata dulu beliau adalah seorang koki handal masakan eropa di salah satu restoran ternama di Jakarta Pusat. Sudah selama lima tahun beliau bekerja sebagai koki. Hal ini membuat saya heran dan bertanya alasan apa dan kenapa beliau mengundurkan diri dari pekerjaan koki tersebut. " Ya alasannya sih pertama saya jadi jarang bahkan sedikit sekali kumpul dengan keluarga karena saya bekerja mulai dari sore hingga pagi tiba dan yang kedua karena jenuh aja sih mas, padahal tawaran banyak dan gaji lebih besar dari pekerjaan saya yang sekarang", tuturnya.

Meski begitu bapak Budi ini tetap semangat dalam menjalani pekerjaannya sebagai tukang sapu jalanan walaupun resiko dan bahaya dekat dengannya tetapi beliau rela bekorban demi anak dan istrinya.

Saya pikir dengan upah tersebut sepertinya belum berbanding lurus dengan pekerjaan yang ia jalani sehari-hari. Kenapa? Karena tidak semua orang mau dan ingin bekerja seperti beliau yang setiap hari
berkawan dengan debu-debu dan sampah-sampah jalanan. Seharusnya  beliau bisa dapat sesuatu yang lebih bukan hanya dari segi materi tetapi da
ri segi penghargaan dan jasanya mungkin itu juga bisa memberikan ia semangat kerja dan kebahagiaan. Karena itu janganlah sesekali kita menyepelekan seseorang yang berada dibawah kita bisa jadi mereka berada diatas kita karena mereka peka dan dapat melakukan hal-hal kecil yang dapat merubah keadaan lingkungan sekitar kita.

Foto selfie dulu nih ama tukangnya hha :D








Tidak ada komentar:

Posting Komentar